BBG (Bahan Bakar Gas) sebagai solusi hemat?

26Mei08

Sejak kenaikan harga BBM baru-baru ini, saya jadi berpikir jika suatu saat saya membeli mobil apa nggak semakin boros aja nih pengeluaran untuk bensin? Saya jadi teringat dengan bajai bbg yang sering berhenti di deket kost saya kemudian juga taksi express yang beberapa armadanya ada yang pake bbg, lalu saya berpikir gimana kalo saya beli mobil dan dipasangin konverter untuk bbg? Beberapa kerugian menggunakan BBG adalah mahalnya alat konversi (sekitar 7 s/d 14jt) dan masih sedikitnya stasiun pengsian ulang BBG, sedangkan keuntungannya adalah:

  1. Harga lebih murah ketimbang BBM
  2. Lebih irit karena pembakarannya lebih sempurna
  3. Umur busi bertambah, jangka waktu tuneup semakin panjang (ref. From pintunet.com)
Mungkin pertimbangan berikutnya adalah, jika kita telah memasang konverter BBG pada mobil, apakah bengkel resmi dari mobil kita mau dan bisa melayani service mesin yang telah di “oprek” seperti ini?Jawabannya masih belum saya temukan di internet, tapi saya menemukan artikel yang lumayan bagus mengenai Bahan Bakar Gas, ini saya ambil dari kompas:

Hemat dan Bersih dengan Bahan Bakar Gas

Barangkali ini bukti pemerintah tak pernah benar-benar serius mengembangkan bahan bakar gas sebagai energi alternatif. Begitu banyak imbauan dikeluarkan, tetapi tidak banyak kebijakan konkret yang dikeluarkan untuk memacu pemakaian BBG untuk kendaraan bermotor.

Sebenarnya Pertamina telah mengembangkan penggunaan compressed natural gas (CNG) untuk kendaraan sejak tahun 1986. Awalnya, ada dukungan kebijakan yang menetapkan 20 persen dari armada taksi harus memakai CNG. Pertamina juga membuka 14 stasiun pengisian BBG (SPBG) di Jakarta.

Selain di Jakarta, Pertamina juga sempat membuka satu SPBD di Cikampek, dua SPBG di Cirebon, dua di Medan, dua di Palembang, dan empat SPBG di Surabaya. Pertamina juga menunjuk tiga perusahaan pemasang converter kit sekaligus bengkel BBG di Jakarta, serta satu di Surabaya.

Sayangnya setelah 20 tahun berjalan, pengguna bahan bakar gas tidak berkembang. Tidak ada upaya sistematis dari pemerintah untuk memopulerkan pemakaian BBG. Bahkan, angkutan umum maupun armada taksi yang memakai BBG malah terus berkurang. Bahkan, dari 17 SPBG yang dulu dibangun di Jakarta, kini tinggal 6 yang beroperasi.

PT Gas Biru milik perusahaan taksi BlueBird, misalnya, kini tidak lagi beroperasi, tidak lagi memasang converter kit, dan menutup SPBG miliknya di Mampang, Jakarta Selatan, karena merugi.

Memang kini pemerintah provinsi DKI Jakarta mulai memasyarakatkan BBG lagi, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pemakaian BBG Mei lalu. Ini dimulai dengan penggunaan BBG untuk bus transjakarta, yang didukung penunjukan PT Petross Gass sebagai distributor tunggal pemasang converter kit sekaligus pemilik SPBG untuk bus transjakarta, dan untuk umum.

Ada harapan pemakaian BBG dipopulerkan lagi, bukan hanya untuk bus dan taksi, tetapi juga kendaraan pribadi. Namun, sejauh ini, pemerintah lagi-lagi belum menunjukkan keseriusan. Pemerintah tak pernah menunjukkan komitmen dengan memakai BBG untuk kendaraan dinas atau kendaraan operasionalnya.

Perlu sosialisasi

Keengganan orang untuk memakai BBG tampaknya lebih pada kurangnya informasi tentang bahan bakar yang hemat, bersih, dan ramah lingkungan itu. Padahal, seperti dikatakan Hardi Pramono, teknisi senior Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) efisiensi atau penghematan dari pemakaian BBG, jauh di atas bahan bakar bensin maupun solar.

Untuk mereka yang berdomisili di sekitar Jakarta, pemakaian BBG, sebenarnya menarik dipilih. “Dibanding bensin atau solar, BBG lebih irit 15-20 persen karena pembakarannya lebih sempurna. Selain itu, harga BBG per liter yang setara dengan premium hanya Rp 3.000 atau 35 persen lebih murah dibanding bensin premium,” ujar Herman, sopir taksi yang sudah sejak tahun 1993 memakai BBG.

Saya sendiri yang selama satu tahun terakhir menggunakan BBG pada kendaraan dinas saya, Nissan Terano keluaran 1998, merasakan penghematan signifikan, dibandingkan dengan memakai bensin premium, apalagi pertamax. Jika penghematan dikonversi dalam rupiah, kendaraan SUV yang menyandang mesin berkapasitas 2.4 Liter itu menjadi sama iritnya dengan sebuah city car (mobil kota).

Mahalnya harga converter kit—yang saat dibeli di PT Gas Biru tahun 2005 masih Rp 7.200.000—praktis sudah kembali dalam bentuk penghematan selama pemakaian 8 bulan pertama BBG.

Keuntungan lain adalah suhu mesin relatif lebih dingin sehingga memperpanjang umur mesin. Karburator bersih, dinding dan kepala piston juga bersih dari kotoran dan kerak, akibat pembakaran sempurna.

Ditanya soal bahaya pemakaian BBG, Eko, teknisi dari PT Gas Biru, mengatakan, “Apa bedanya dengan pemakaian elpiji di rumah-rumah. Banyak orang yang takut memakai BBG untuk mobilnya, tetapi tak keberatan naik taksi yang memakai BBG.”

Pilih yang irit

Sebenarnya, ada dua jenis bahan bakar gas yang populer digunakan, yaitu liquid petroleum gas (LPG, atau biasa diakronimkan dengan sebutan elpiji) dan compressed natural gas (CNG). Sesungguhnya LPG lebih mudah ditransportasikan dari CNG. Namun, karena harganya jauh lebih mahal ketimbang CNG, maka CNG-lah yang dipilih.

Namun, berbeda dengan LPG, CNG tidak dapat ditransportasikan. Penyaluran CNG ke rumah-rumah penduduk dan ke SPBG dilakukan melalui pipa.

Dari segi risiko kebakaran, CNG lebih aman dibanding LPG. Sebaliknya, CNG membutuhkan tabung bertekanan tinggi untuk menyimpannya. Itu sebabnya, untuk tabung silinder berkapasitas 17 liter, misalnya, berat kosongnya saja sekitar 75 kilogram. Setelah diisi, dengan tekanan 200 bar atau 2.900 psi atau 197 kali lipat tekanan udara biasa, beratnya hampir 100 kilogram. Inilah sebagai risiko CNG. Tabung yang tidak memenuhi standar punya risiko meledak.

Keunggulan CNG adalah harganya yang jauh lebih murah, yaitu Rp 3.000 per LSP (liter setara premium), sedangkan LPG di atas Rp 4.000 per kilogram.

“Lemigas sekarang sedang melakukan uji coba elpiji untuk kendaraan. Kami juga melakukan modifikasi converter kit CNG untuk dipakai ke elpiji. Hasilnya baik. Akan tetapi, dari segi finansial, pemakaian elpiji kurang efisien karena harganya hampir sama dengan bensin,” ujar Hardi Pramono.

Hindari risiko

Untuk memperkecil risiko pemakaian BBG, sebenarnya tak banyak yang harus dilakukan. Hal penting yang harus dilakukan justru tak berkaitan langsung dengan BBG, yaitu membersihkan filter udara. BBG mensyaratkan filter udara yang benar-benar bersih.

Adapun untuk peranti BBG, kecuali mengecek saluran pengisian, pencampur udara dan gas, serta kerangan otomatis di kompartemen mesin setiap 6 bulan, praktis tidak ada perawatan lain yang dituntut. Adapun untuk tabung BBG yang diletakkan di bagasi, Lemigas menetapkan pengecekan atau tera tiga tahun sekali.

Untuk menyiasati kehabisan BBG di perjalanan, semua fungsi bahan bakar bensin sebaiknya tetap dipakai. Untuk kembali ke bensin, pengemudi cukup menekan tombol seleksi di dashboard. Cara ini perlu dipilih, mengingat terbatasnya SPBG.

Dibanding pengisian bensin, memang untuk mengisi BBG butuh waktu yang relatif lebih lama. Untuk mengisi tabung kapasitas 17 liter, dibutuhkan waktu sekitar 3 menit. Bandingkan dengan pengisian bensin yang mungkin cuma butuh waktu setengah menit untuk 17 liter. Ini lah yang menyebabkan antrean panjang adalah pemandangan yang biasa terlihat di beberapa SPBG di Jakarta.

Memang saat digunakan, mesin yang memakai BBG tidak seresponsif mesin bensin. Tarikan kurang spontan, meski kecepatan atau tenaga maksimal tetap bisa didapat. Karena tarikan yang tidak spontan itulah, BBG menjadi kurang cocok untuk pengemudi yang gemar ngebut. Namun, untuk lalu lintas di Jakarta yang padat, di mana pula orang bisa ngebut?

Untuk memasang converter kit, biayanya masih relatif mahal. PT Petross Gas sebagai distributor tunggal converter kit yang keagenannya dipegang PT Hyundai Indonesia Motor mematok biaya Rp 11 juta-Rp 15 juta untuk pemasangan converter kit, termasuk tabung BBG. Beda harga ditentukan besar kecilnya mesin dan sistem pembakarannya. Sistem karburator lebih murah dibanding injeksi. “Tapi jika dikalkulasi, biaya itu akan kembali dalam setahun dalam bentuk penghematan biaya bahan bakar,” ujar Jongkie Sugiarto, Presdir PT Hyundai Indonesia Motor.

Converter kit yang ditawarkan adalah regulator produk Italia bermerek Landi Renzo dengan tangki baja merek Faber. Converter kit itu sama seperti yang ditawarkan tiga perusahaan, yang 10 tahun lalu ditunjuk sebagai pemasang resmi converter kit, yaitu PT Gas Biru, PT Supergasindo, dan PT Sugiron Citra Teknologi.

Kini, dengan hanya satu perusahaan penyalur converter kit, memang tak ada persaingan harga dan variasi produk. Juga tidak ada alternatif converter lain seperti produk India, Finlandia atau Kanada, misalnya. “Kalau pemerintah menunjuk beberapa perusahaan untuk secara resmi boleh menjual converter kit, mungkin akan ada persaingan sehingga harganya bisa lebih realistis. Sebab di luar negeri, ada beberapa pilihan converter kit yang lebih murah,” ujar Eko, teknisi BBG yang sebelumnya bekerja di PT Gas Biru.

Selain tabung baja BBG, ada juga tabung aluminium, yang lebih ringan, sekitar 30 kilogram, dan berdaya tampung jauh hingga 30 LSP.

“Yang aluminium harganya tiga kali lipat lebih mahal. Memang lebih enteng dan kapasitasnya besar. Namun, daya tahan aluminium terhadap panas lebih rendah dibanding baja,” ujar Yono, mantan teknisi PT Gas Biru yang kini menjadi teknisi lepas untuk converter kit.

Hardi Pramono dari Lemigas menyatakan, pengujian tabung adalah hal yang mutlak harus dilakukan pengguna BBG. “Kami ketat dalam menguji tabung. Jika tidak layak kami tidak mau kompromi dan kami akan meminta tabung agar tidak dipakai lagi. Ini menyangkut keselamatan,” ujar Hardi. “Kalau secara rutin tabung dan converter kita diperiksakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. BBG adalah alternatif menarik untuk efisiensi,” tambahnya.

Kuncinya ada di tangan pemerintah. Bukan hanya sosialisasi pemakaian BBG yang dibutuhkan, tapi juga dukungan fasilitas dan regulasi tentang penggunaan dan pengawasan. Kalau saja pemerintah punya komitmen dan program yang jelas—tidak sekadar mengajak atau mengimbau—setidaknya kita tak perlu lelah berdebat setiap ada kenaikan harga bensin atau solar. (nugroho F Yudho)



11 Responses to “BBG (Bahan Bakar Gas) sebagai solusi hemat?”

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com

    http://energi.infogue.com

    http://energi.infogue.com/bbg_bahan_bakar_gas_sebagai_solusi_hemat_

  2. 2 BudakKasepTiTasik

    “Saya sendiri yang selama satu tahun terakhir menggunakan BBG pada kendaraan dinas saya, Nissan Terano keluaran 1998, merasakan penghematan signifikan, dibandingkan dengan memakai bensin premium, apalagi pertamax. Jika penghematan dikonversi dalam rupiah, kendaraan SUV yang menyandang mesin berkapasitas 2.4 Liter itu menjadi sama iritnya dengan sebuah city car (mobil kota).”

    nb. ???? boleh donk nih jalan-jalan pake nissan terano-na..???
    heheehhehe… piss bro…

  3. 3 Sigit Priyambodo

    Saya Tinggal di Yogyakarta. Saya sangat tertarik dengan kendaraan bermotor yang berbahan bakar gas.
    Saya pengin tahu banyak tentang teknik instalasi mesin dengan bahan bakar gas. Bagainama juga dengan merubah/modifikasi karburator bansin menjadi BBG.
    Kalau ada teman yang mau bantu bisa email saya di: maz_totok@yahoo.co.id.
    Atas bantuannya diucapkan matur nuwun….!

  4. kalau ada yang punya skema alat konfersi dari mesin bensin ke gas tolong kasih tau doong.
    saya masih mencari jenis katup gas yang cocok nih untuk gas tersebut. thanks berat

  5. 5 Josh

    Kalau boleh tanya Nissan Terrano bapak apakah sudah bermesin CNG sewaktu dibeli atau dikonversi dari BBM ke CNG ?

  6. 6 aptogaz

    @mas Adrian,

    sayang sekali, berdasarkan pengalaman saya memang kendaraan yang sudah dipasangi konverter kit BBG (Bahan Bakar Gas) – CNG, ditolak untuk masuk bengkel resmi, sehingga biasanya yang mau memasang konverter kit ini adalah orang-orang yang memang menginginkan perubahan untuk penurunan biaya operasional saja.

    atau perusahaan-perusahaan umum transportasi.

    sedangkan jika kita mengkonversi mobil kita ke vigas (LPG), maka pihak toyota tunas ridean sudah mau menanganinya.

    regards,
    -adi-
    http://www.aptogaz.com

  7. Sekedar Tambahan Informasi,

    PEralatan BBG (Bahan Bakar Gas), dan Workshop untuk mengkonversi kendaraan dari BBM ke BBG (Bahan Bakar Gas), anda bisa menghubungi aptogaz indonesia (www.aptogaz.com)

    Salam,
    aptogaz

  8. 8 Rafiq

    Mas Nugroho, dengan harga premium 4500 sekarang ini apa masih feasible yah invest di SPBG? kira2 yang ideal tempat yang memungkinkan dapat suplly gas dan market potensialnya banyak dimana yah?
    tks. Rafiq

  9. 9 hny

    mas-mas mau nanya donk, mas yg nulis artikel ini namanya adrian kah? saya mw mensitasi tulisan mas n perlu mnuliskan nama penulis juga di daftar pustakanya. makasih sblmnya :)

  10. 10 jaka

    wah klw sksrsng digalakkan gas ane jg mw lo psng konverter kit

  11. 11 jojon

    pemerintah cuma pandai ngomong, kalau ada gas meledak pemerintah lepas tangan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: